My Favourite Lecturer

Akhirnya sekarang punya jawaban untuk pertanyaan “Siapa guru atau dosen yang paling kamu sukai dan membekas di hati?”. Jawabannya adalah Professor Arief Rahman……..

Siapa yang tidak kenal beliau? tokoh pendidikan yang sering diundang sebagai pembicara di berbagai kesempatan, nasional dan internasional. Selama ini aku mengenal dan melihatnya sebatas dari layar kaca. Siapa sangka akhirnya punya kesempatan untuk menjadi mahasiswanya dan mendengarkan kuliahnya selama 2 jam tanpa bosan. Alhamdulillah.

Beliau berkesempatan mengajar mata kuliah The Phylosophy of Science untuk mahasiswa program magister pendidikan bahasa Inggris. Awalnya, aku pesimis ketika melihat jadwal kuliah dan mendapati akan belajar filsafat. Dalam bayanganku, filsafat akan penuh dengan teori-teorinya Karl Marx, Nietsche, Socrates, dll… -siap-siap dicuci otak aja Di, harus perkuat iman- begitu pikirku. Namun kenyataannya, imanku bertambah selama mengikuti mata kuliah ini. Bagaimana tidak, Prof Arief selalu menekankan pentingnya membesarkan keagungan Allah. Bahwa segala ilmu di dunia ini bersumber dari Yang Maha Kuasa. Belum lagi mendengarkan kisahnya menapaki dua tempat yang paling suci di dunia ini, Mekkah dan Yerusalem (Betlehem). Ah, ingin segera ke sana. Beliau pun satu-satunya dosen yang mewajibkan kelas selesai sebelum azan maghrib berkumandang. “Walaupun jadwalnya selesai jam setengah 7 saya tetap akan membubarkan kelas sebelum Maghrib. I need to pray. Tidak peduli dengan Ibu Ratna (KaProdi PMPBI), saya lebih takut sama Allah.” kilahnya. JUARA!

Sejak hari pertama kuliah beliau sudah meninggalkan kesan mendalam. Beliau sangat disiplin dengan waktu. Datang 15 hingga 20 menit lebih awal dari jam kuliah, hanya untuk berbagi cerita dengan mahasiswanya. Di awal pertemuan, beliau meminta semua mahasiswa mengeluarkan agenda dan mencocokkan jadwal kuliah hingga akhir pertemuan. Menjelaskan bahwa pada tanggal-tanggal tertentu beliau akan tidak hadir karena tugas negara ke Paris, Perancis. Sangat amanah dengan janji. Selain tanggal-tanggal yang sudah dipastikan akan absen, beliau selalu hadir tepat waktu, bahkan sebelum waktunya.

Caranya menyampaikan materi dengan ilustrasi-ilustrasi yang mudah dipahami sangat mengesankan. Tak jarang beliau mengambil contoh tentang keseharian, hubungan suami istri dalam rumah tangga misalnya. Seringkali, aku merasa sedang berada di seminar pra nikah daripada kelas Filsafat Ilmu. Bahkan, beliau berjanji untuk hadir dan menjadi penasehat pernikahan setiap mahasiswanya, jika tidak berhalangan dan lokasinya di Jakarta. Oke, aku tunggu ya Pak! ^^

JIka mengingat usianya yang sudah lebih dari 70 tahun namun masih berkontribusi banyak untuk masyarakat rasanya malu jika diri ini masih suka mengeluh dengan kegiatan yang belum seberapa banyaknya.Belum lagi, kisahnya di masa muda yang keluar masuk penjara karena menyuarakan kebenaran. Benar adanya, semakin berilmu seseorang, semakin bermanfaat dirinya.

Satu hal lagi, sepertinya beliau sangat mencintai istrinya. Satu kali dia mengatakan bahwa alasan ada cincin di tangan kanannya bukan karena ikut-ikutan demam batu akik melainkan karena cincin itu pemberian dari orang yang istimewa, Sang istri. Sweet.

Banyak sekali kata-kata beliau yang membekas di hati. Namun satu yang masih kuingat dengan jelas. Bahwa kehidupan di dunia ini tidak bisa dibeli dengan materi.

You can buy bed, but you can’t buy sleep.

You can buy food, but you can’t buy appetite.

You can buy medicine, but you can’t buy health.

You can buy leisure, but you can’t buy peace.

You can buy house, but you can’t buy home.

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s