Fortnight

“Let my soul smile through my heart and my heart smile through my eyes, that I may scatter rich smiles in sad hearts.” Paramahansa Yogananda

It’s been a fortnight since you left us, Cinta. Banyak yang bertanya apakah aku baik-baik saja, “are you okay?”, “gimana kabarmu Fi?”. tanya mereka. Aku bersyukur atas perhatian mereka, Cinta, terima kasih telah bertanya. Sungguh aku baik-baik saja.

Tidak kupungkiri ada saat-saat kelenjar lakrimalku tidak lagi bisa menahan bendungan kerinduan. Rekaman episode bersamamu berputar indah di ingatanku. Panggilan lembutmu via telepon menanyakan keberadaanku saat itu, atau bahkan suara jengkelmu melihatku tak kunjung bangun di pagi hari masih terngiang jelas. Semoga air mata rinduku tidak memberatkanmu di sana.

Banyak hal yang berubah setelah kepergianmu, Cinta. Perubahan yang mendewasakan dan menyadarkanku bahwa pekerjaanmu selama ini tidaklah mudah.

Dulu, aku terbiasa pulang dengan salam dan seruan “Mom, aku lapaaar” serta bergegas mengurung diri di kamar. Sekarang, dapur menjadi tempat persinggahan pertama. Bukan, bukan untuk melihat apakah ada makanan yang bisa mengisi perut kosongku melainkan memastikan apakah masakanku tadi pagi telah habis disantap atau malah tidak tersentuh sedikitpun. Maaf jika dulu aku sering tidak menghargai masakanmu, Cinta. Maaf….

Betapa banyak hal-hal kecil yang harus kamu perhatikan dan sekarang tugaskulah untuk menggantikan peranmu. Hal-hal seperti; memanaskan atau memasukkan makanan ke lemari pendingin sebelum tidur agar tidak basi esok harinya,memastikan stok bumbu dapur, bawang merah, bawang putih, cabai, gula, teh masih tersedia untuk beberapa hari ke depan, begitu pula dengan persediaan nasi di magic jar, belum lagi berpikir jenis makanan apa untuk menu esok hari, menyiapkan segala perlengkapan ayah (baju, obat, dan makan beliau), hingga membangunkan si bungsu untuk subuh di masjid. Ah, Cinta, maaf jika dulu aku tak banyak membantu di bagian ini.

Tapi toh yang kulihat dirimu mengerjakannya dengan riang gembira, hati ikhlas. itu yang kutangkap. Hingga kamu tau Cinta, jika ada yang bertanya apa cita-citaku, ambisiku…aku ingin menjadi seorang Ibu. Karena caramu memainkan peran ini sangatlah indah.

Cinta, semoga perjuanganmu melahirkan dan membesarkan 9 anak tidak sia-sia di hadapan-Nya. akan ada delapan kepala yang mendoakan kemudahan untukmu menuju Surga-Nya. jika bukan doaku yang diijabah semoga doa kakak-kakak dan abang-abang yang bisa menyelamatkanmu. aamiin allahumma aamiin.

I just want to show the world that my smile doesn’t fade away because to have you As my Mom is one of the things I’m mostly grateful for. Allahummaghfirlaha warhamha wa’afiha wa’fuanha. May we meet again in Jannah.

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s