Cinta bukan Penantian

“Is it that nice to be in love?

Rasa-rasanya belum pernah aku memiliki rasa suka yang teramat sangat pada lawan jenis. Seperti rasa sukanya Kotoko pada Naoki, Ran pada Shinichi (atau sebaliknya). Perasaan yang (katanya) menyesakkan dada, membuat yang mengalaminya tidak dapat berpikir jernih, dihantui rasa harap dan takut. Rasa kagum, suka, cinta, atau apalah itu terhadap seseorang yang belum pasti merupakan pasangan jodoh kita. Sayangnya, tak banyak kisah yang berakhir seperti cerita Kotoko dan Naoki. Terlalu banyak pilu yang diakibatkan rasa suka itu. Hingga tak berdaya ketika takdir berkata: “Bukan, dia bukan jodohmu”. Lantas, bolehkah kita memilikinya? bolehkah dipendam demikian dalam? bolehkan dipupuk hingga dia semakin subur?.

 

Entah berapa banyak cerita yang kudapatkan tentang sakit hati karena the crush akhirnya menikah dengan orang lain. Tapi satu yang buatku tergerak untuk menuliskannya adalah kejadian semalam. Mendapati dua teman dibuat emosional oleh satu sosok laki-laki. Emosional dalam arti yang berbeda, ambivalen. Teman pertama merasa berbunga-bunga karena sebentar lagi akan menjadi pasangan hidup laki-laki itu. Sebaliknya, teman kedua harus dibuat kacau hidupnya akibat cintanya yang tak berbalas oleh laki-laki yang sama. Dan aku yang mengetahui kisah keduanya hanya bisa mengambil hikmah (:

 

Ah, Cinta…haruskah kamu hadir di saat ijab kabul tak terucap?.

Membuat hati menerka semua gerak-gerik yang dia perlihatkan.

Hari-hari berlalu dengan harap cemas akan masa depan.

Akankah bersamanya atau tanpa dirinya.

 

Kupikir tak pantas rasa itu hadir menghantui hari-hari seorang muslim. Waktu di dunia yang sebentar terlewati dengan gelisah, betapa meruginya. Cukuplah kisah cinta Fatimah Az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib jadi panutan seorang muslim. Cinta yang selalu terjaga kerahasiaannya dalam sikap, kata, maupun ekspresi. Hingga akhirnya Allah menyatukan mereka dalam sebuah ikatan suci pernikahan. Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan. Itulah keberanian. Atau mempersilakan. Yang ini pengorbanan.

Islam dengan jelas menerangkan tentang pergaulan dengan lawan jenis, menjaga hati, dan mengimani takdir. Toh, Allah sudah janjikan dalam surah Adz-Zariyat:51.

“Dan segala sesuatu kami jadikan berpasangpasangan, supaya kamu mengingat kebesaran Allah.”

[QS. Adz Dzariyaat (51):49]

Jika kita mengimani ayat tersebut, maka yang diperlukan saat ini adalah bersabar dan memperbaiki diri…hingga Allah takdirkan pertemuan itu…jika tidak di dunia…inshaa Allah di Surga-Nya kelak. aamiin (‘:

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s