Cukuplah Allah Bagiku

Sebenarnya kisah ini aku alami hampir 2 tahun yang lalu. Tepatnya, saat aku sibuk mengurus keberangkatan ke Australia. Beberapa dari kalian mungkin sudah pernah mendengar cerita ini langsung dariku. Hanya ingin berbagi salah satu kisah yang membuatku percaya bahwa pertolongan Allah amatlah dekat.

Aku terlahir sebagai putri bungsu dengan 7 kakak yang jarak usianya denganku terbilang jauh. Aku tumbuh dalam kondisi finansial keluarga yang alhamdulillah jauh lebih baik dibanding saat masih tinggal di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Dua keistimewaan itulah yang kemudian membuat semua keinginan dan kebutuhanku terpenuhi dengan mudah. Setiap kali harus bepergian jauh selalu ada abang-abang yang mengantar. Bahkan urusan sekolahku semua mereka yang handle. Masih teringat jelas ketika mengikuti Ujian Masuk Bersama (UMB) di SMA daerah rawamangun, abangku nomor 7 yang pagi-pagi buta mengantar dan bahkan menungguiku hingga selesai, 2 hari berturut-turut. Intinya….aku terbiasa ditemani dan dilayani….

Hingga akhirnya, waktu berlalu dan semua kakakku telah berkeluarga. Tidak ada lagi yang dengan sigap mengantarku bepergian, menemaniku mengurus banyak hal. Bukan karena mereka tak mau…tapi kondisi yang tidak memungkinkan. Jadilah semua proses keberangkatan ke Australia aku jalani seorang diri…ah tidak seorang diri… namun berteman dengan vario hitam yang mutlak menjadi milikku sejak september 2010.

Keberangkatan ke Australia terjadwal tanggal 11 Juli 2011, namun ada satu hal yang belum terpenuhi, Visa Australia. Karena satu alasan pembuatan Visa baru bisa dikerjakan pada tanggal 16 Juni 2011, telat dua hari dari Mega (teman yang juga akan berangkat ke Aussie). Berberkal berkas-berkas yang diperlukan, uang 6.200.000 hasil ‘merampok’ ayah, notebook, modem, dan hape nokia, aku berangkat dengan si Vario.

Pembuatan Visa Australia berlokasi di Plaza Asia di kawasan Sudirman. Sebelumnya di rumah sudah melihat google map untuk memastikan lokasi. Namun, apa daya, pernyataan bahwa women can’t read map was so true and applied for me. Sebelum akhirnya sampai di Plaza Asia, aku harus tersasar ke Plaza Bapindo dan sumitmas, padahal ketiga gedung tersebut saling bersebelahan -_-. Sampai di Plaza Asia, lagi-lagi harus bersabar menunggu antrian. Ketika tiba giliran, petugas yang ramah itu memberitaukan ketentuan adanya tes kesehatan yang hanya bisa dilakukan di beberapa rumah sakit dan klinik rujukan. Salah satu klinik terdekat berlokasi di daerah Rasuna Said. Tanpa pikir panjang aku pun bergegas menuju klinik tersebut.

Saat itu waktu dzuhur, lagi-lagi untuk mencapai lokasi harus disasarkan ke beberapa gedung sebelahnya -_-. Sesampainya di klinik yang pertama kali kucari adalah musholla. Ini nih, kelemahan Indonesia, gedung besar tapi musholla selalu di basement dekat dengan ruang cleaning service dan amat kecil. Selesai ‘ngadu’ sama Allah, aku menuju klinik sekaligus menelepon Mega memastikan bahwa biaya tes kesehatan tidak melebihi uang yang kubawa. Biaya tes kesehatan menurut Mega hanya 300rib. Alhamdulillah, cukuplah…uang yang kubawa 6.200.000, biaya Visa pelajar 5.500.000, sedangkan tes kesehatan hanya 300.000, masih aman (:. Namun ternyata dugaanku salah…pelajar jurusan kesehatan harus tes urin dan darah berbeda dengan pelajar lainnya, padahal aku adalah pelajar kesehatan dan Mega mahasiswi tekhnik, so? Benarlah biaya tes kesehatanku jauh lebih mahal yaitu 1 juta rupiah. Subhanallah…. ):

Bagaimana ini? Uangnya tak cukup, kurang 300rb jika masih memaksakan untuk apply visa hari itu juga. Di saat yang sama jam sudah menunjukkan pukul 2 siang, padahal kantor Visa nya tutup pukul 4 sore. Kalo baru apply besok, maka tanggal jadinya visa pun mundur 1 hari, yang artinya aku belum punya visa pada tanggal 11 Juli, tanggal berlakunya tiket pesawat, ottoke? ):

Hati gelisah, pikiran mumet, ditambah lagi perut keroncongan. Jelas, aku tak menyentuh makanan apapun sejak pagi, yang kupunya hanya air mineral dari rumah. Sudahlah, makanpun tak berselera…aku sibuk memutar otak bagaimana bisa menutupi kekurangannya. Atm kosong, minta orang rumah transferpun tidak memungkinkan, oh…Bang A. Kantornya Bang A kan di Rasuna Said. Bang A adalah abang nomor 7 ku yang bekerja di Tempo Group. Sesegera mungkin aku sms Bang A. Setelah menunggu sekian lama tak ada balasan juga. Oke…hopeless, aku pulang saja.

Saat sudah sampai daerah UKI tiba-tiba Bang A menelepon dan menyuruhku ke kantornya. Putar balik dan sampailah di kantor Bang A (lagi-lagi harus kesasar dulu). sesampainya di sana sudah disambut dengan teh botol dingin dan uang 300rb…ah….you’re the best, always Bang (:.
Tak lama aku pun memacu si vario kembali ke Plaza Asia. Sebelumnya aku sempat cek email lewat handphone. Ada email baru dari Therese (petugas International officce Charles Darwin University) yang mengirimkan keterangan mengenai beasiswa 5000 AUSD yang kudapat dari Endeavour program. Segera aku tanya petugas keamanan letak office centre untuk ngeprint email tersebut. Alhamdulillah, ada notebook, modem, dan flash disk. Surat keterangan itupun menambah berkas-berkas yang akan digunakan untuk pembuatan visa. Oh iya, aku sempatkan solat dulu di Sumitmas, lantai paling bawah, ruangan yang amat kecil. Lagi-lagi aku mengadu…semua lelah, resah, dan lapar kuadukan pada-Nya…Masha Allah….

Pukul 15.30, 30 menit sebelum kantor tutup. Setelah menunggu beberapa menit lalu giliranku tiba. Dengan sisa-sisa senyuman yang kupunya kuhampiri Mba penjaga loket. Kuserahkan semua berkas-berkas yang diperlukan, kukeluarkan uang 5.500.000 tersebut. Di sinilah Allah jawab semua doaku:
Mba Loket: iya semua berkasnya sudah lengkap, saya terima ya, biayanya Rp. 125.000
Saya: *siap menyodorkan tumpukan uang 5,5 juta lalu bengong* berapa Mba?
Mba Loket: Rp. 125.000
Saya: bukannya Rp. 5.500.000 ya Mba?
Mba Loket: enggak, biayanya hanya biaya administrasi saja, karena Mba dapat beasiswa dari Endeavour program.
Saya: beneran Mba? Tapi teman saya baru apply dua hari yang lalu dan dia bayar Rp. 5.500.000. coba deh cek Mba.
Mba Loket: beneran kok, sebentar ya saya tanyain *bergegas pergi*. *10 menit baru kembali* beneran Mba, tidak dikenakan biaya visa pelajar karena Mba punya surat keterangan beasiswa dari pemerintah Australia.
Saya: oh gitu ya Mba *muka polos* *padahal dalam hati tak henti bertakbir, tahmid, dan tasbih* Subhanallah wal hamdulillah, Allahu Akbar (“:

Ah, aku tak pandai bercerita…kaupun tak harus benar-benar rasakan apa yang kurasa. cukuplah kuberitau inti cerita bahwa di saat itu aku sadar diri ini sudah saatnya dewasa…tak lagi mudah putus asa, tak harus menyalahkan orang lain jika ada masalah, tak perlu mengandalkan orang lain untuk mencapai suatu asa. Cukuplah Allah bagiku….Dia sebaik-baiknya Penolong, sungguh. Di akhir aku baru sadar bahwa the most hectic day itu aku lalui dengan senyuman, tak ada air mata yang jatuh, tak ada keluhan terucap. Satu yang kuyakini, Allah akan membantuku dengan cara-Nya yang tak terduga.

Bayangkan, dari tak punya uang sepeserpun untuk membeli makanan kecil hingga aku punya uang tunai Rp. 5.300.000 yang siap dibelanjakan. Jadi, mau makan apa kita?😀

2 thoughts on “Cukuplah Allah Bagiku

  1. Assalamu’alaikum…kisah yang menarik dan moga ada hikmah untuk semua.. kalo semua urusan sudah diserahkan kepada Dzat yang Maha segalanya.. Ada saja kemudahan yang datang tanpa diduga-duga..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s