Berbicara tentang Free Sex

Naudzubillahmindzalik…..

Alasan terbesarku tidak terlalu menggemari film-film barat adalah kurangnya bahkan tidak ada -jika harus mengakui keekstriman adegan dalam film- sensor di sana. Benar adanya usiaku sudah 20 tahun, which is 17 + sudah lewat 3 tahun yg lalu, tapi tetap saja tidak bisa mentoleranvulgarnya film-film Barat. Padahal, menonton Film Barat adalah cara paling ampuh belajar Bahasa Inggris. Harus pintar memilah memang, ibarat minyak, sudah melewati 2 x saringan. Beruntung, dapat rekomendasi film-film British dari Teh Maimon Herawati (pengarang novel serial Pingkan). Ah, akan kuceritakan tersendiri tentang film-film itu, sekarang yang mau kusoroti adalah tentang bebasnya pergaulan Western.

leaflet in Building Blue 5

Leaflet seperti di atas ditempel di seluruh toilet kampus CDU, dari building Orange hingga Pink. satu kata yang terpikir saat lihat tulisan ini = G*LA, separah itukah free sex di kalangan orang Barat hingga governmentnya sendiri berkampanye dengan bahasa seperti di atas. naudzubillahmindzalik, kalo Mommyku tau dan ngerti arti tulisan ini, aku, si putri bungsu kesayangan (ini gelar yang kubuat dan kuakui sendiri) hampir pasti tidak diizinkan melanglang buana seorang diri

Teringat perbincangan sepulang dari pantai di pagi buta dengan teman asal Jerman, Eliana namanya, sosok Vegan yang nyentrik, ingat potongan rambut David Beckham saat piala dunia 2002? ya,seperti itulah Eliana. Hah, Di? kamu ngobrol berdua dengan laki-laki dan ke pantai di pagi hari? eits, siapa bilang Eliana laki-laki, namanya aja E-LI-A-NA, dia perempuan saudara-saudara🙂. sewaktu itu aku bertanya tentang begitu baiknya pemerintah Jerman yang menyediakan 5000 kursi PhD untuk menghapus hutang Indonesia. Ternyata menurut Eliana (2011), warga Jerman tidak banyak yang berminat melanjutkan pendidikan hingga tingkat PhD, terlebih mereka tidak mau punya anak. Dengan lugunya aku bertanya, “emang mereka gak mau nikah apa?” si gadis Jerman ini kebingungan dengan pertanyaanku karena ternyata menurutnya tidak ada korelasi antara menikah dengan punya anak. kenapa?

– pertama, kalo pun warga Jerman menikah bukan berarti mereka akan punya anak

-kedua, kalopun warga Jerman punya anak bukan berarti mereka sudah atau harus menikah.

GLEK, lihatlah saudara-saudara… beda sekali bukan pemikirannya.

leaflet di toilet wanita unihouse building 4

Nah, satu lagi leaflet yang semakin membuat bulu kudukku bergidik. Kalo di zoom tulisan di warna hijau itu…

FYI, STI itu singkatan dari sexually transmitted disease.Ternyata mereka lebih khawatir dengan azab dunia dibanding azab akhirat (iyalah Di) makanya bersyukur yang telah dikarunia hidayah-Nya. terlalu innocent kah aku? terlalu poloskah? hei, ini kemaksiatan, haruskah merasa biasa dengan dosa?

 

hakikatnya, tidak semua “orang barat” seperti itu, sama halnya dengan tidak semua “orang timur” tidak berbuat itu. Di sini pun aku bertemu muallaf yang subhanallah, bahkan mungkin semangat berislamnya lebih baik dariku. Bersyukur berarti menghindari hal-hal yang dilarang Allah termasuk pergaulan bebas dan berusaha mengajak orang-orang di sekitar untuk berbuat hal yang benar.

Ya Rahman, kutitipkan hatiku padaMu, hingga nantiKau perkenankanku berbagi kasih pada dirinya yang halal untukku.

Jaga hatiku agar selalu pada agama-Mu, selalu pada kebenaran. aamiin

Posted in Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s