Tahap 1 Menuju K2N

essay ini aku buat agar lolos di tahap 1 seleksi K2N, essay yang dibuat saat pelbagai masalah datang dan mengganggu pikiran ><

Pulau Ngele Ngele Besar, Maluku Utara

 

Internalisasi Rasa Cinta Budaya melalui permaina Rakyat di Pulau Ngele-ngele Besar, Maluku Utara

Tak perlulah aku keliling dunia
Biarkan ku disini
Tak perlulah aku keliling dunia
Karna ku tak mau jauh
Darimu

Dunia boleh tertawa
Melihatku bahagia
Walau ditempat yang kau anggap tak biasa
Biarkanlah aku bernyanyi
Berlari berputar menari disini

(Tak perlulah aku keliling dunia)

Tak perlulah aku keliling dunia
Karna kau disini
Tak perlulah aku keliling dunia
Kaulah segalanya bagiku

Di Duniaaa.. Aaa.. Aaa.. Aaa.. Aaa..

(Tak Perlu Keliling Dunia, Gita Gutawa)

 

Penggalan lirik lagu di atas menjadi original soundtrack sebuah film yang bercerita tentang perjuangan bocah daerah dalam meraih kenyataan mimpi. Tak perlulah aku keliling dunia, pernyataan manipulatif yang sepertinya tak sesuai dengan kondisi kekinian saat globalisasi menjadi hal yang diagung-agungkan. Era dimana nasionalisme mulai luntur dan berganti dengan kebanggaan terhadap kualitas negara lain. Akan tetapi, rencana kuliah kerja nyata ini membawa pemahaman menarik mengapa sang pengarang lagu menciptakan lagu yang terkesan manipulatif tersebut. Jawabannya adalah betapa berlimpahnya kekayaan alam di negara Indonesia ini. Kelimpahan yang patut disyukuri dengan langkah konkrit. Tak perlulah aku keliling dunia, karna kau di sini. Kau dalam lagu ibarat kekayaan alam dan budaya Indonesia. Tak dapat kutemukan ‘kau’ di belahan bumi lain. Tampaknya itu yang tersirat dari lagu, dan itu yang saya tangkap setelah menjelajahi referensi buku maupun internet tentang pulau-pulau terluar Indonesia. Perkenankan saya menulis tentang ‘kau’ dalam pandangan saya, ‘kau’ yang bernama Pulau Ngele-ngele Besar.

 

Minapolitan Indonesia

Pulau Ngele-ngele Besar merupakan bagian dari sebuah kabupaten di utara Maluku yang bernama Pulau Morotai. Pulau yang berjarak sekitar 45 menit perjalanan laut dari Daruba ke arah Barat dan berada pada koordinat 2⁰12’11.4” Lintang Utara dan 128⁰12’49” Bujur Timur. Luas pulau ini adalah 125 hektar dan telah dimanfaatkan seluas 70 hektar oleh PT. Morotai Marine Center (Sadili, 2011). Daerah yang kaya akan sumber alam perikanan ini direncanakan menjadi kawasan Minapolitan, yaitu daerah yang berbasis perikanan. Pulau Ngele-ngele Besar akan dijadikan kawasan budidaya perikanan dan ekoturisme.

Hasil laut seperti mutiara, ikan kerapu, lobster, dan komoditi maritim lainnya tersebar luas dan berlimpah di Pulau tersebut. Salah satu sumber menyebutkan bahwa asal mula penamaan Pulau Morotai berkaitan dengan kesalahan pelafalan kata mutiara oleh pribumi pulau itu. Surat kabar harian nasional, Kompas, pernah memuat berita yang berjudul “Morotai, Mutiara Terpendam” pada tanggal 7 Desember 2011. PT. Morotai Marine Center (PT. MMC) menjadi stakeholder utama dari budidaya mutiara di pulau yang menjadi batas terluar Indonesia sebelah utara ini.

Pemerintah provinsi Maluku Utara mencanangkan kebijakan bagi Pulau Morotai beserta ke 23 pulau kecil yang berada di dalamnya sebagai kawasan Minapolitan Indonesia. Pelbagai usaha di bidang perikanan baik perdagangan maupun pariwisata akan dimaksimalkan dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia. Oleh karena itu, selayaknya segala upaya ini dilakukan oleh para putra bangsa. Kerja sama dengan investor asing bukanlah menjadi suatu larangan, namun memaksimalkan apa yang dimiliki oleh investor lokal akan jauh lebih baik.

Kebijakan pemerintah ini perlu disambut baik oleh warga lokal maupun mereka yang memiliki akses langsung dan kewenangan dalam menjalankan program. Beberapa hal  yang dapat dilakukan adalah dengan membangun kepercayaan diri masyarakat lokal Pulau Morotai dalam mengelola sumber daya alamnya, memaksimalkan potensi alam bagi kesehatan dan pendidikan masyarakat lokal pada khususnya dan warga negara Indonesia pada umumnya.

 

Internalisasi Rasa Cinta Budaya pada Masyarakat Lokal

Tahun lalu, tepatnya pada bulan April 2010, stasiun televisi swasta berlogo burung elang, Metro TV, menyelenggarakan sebuah kompetisi film dokumenter dengan judul ‘Cerdas Indonesiaku”. Pemilihan tema yang tepat dan solutif terhadap kebutuhan bangsa Indonesia saat ini. Kecerdasan memiliki makna lebih luas dari sekedar pintar. Cerdas berarti mampu mengenali situasi dan bereaksi dengan tepat terhadap situasi tersebut. Konsistensi tema ini pun ditunjukkan oleh para dewan juri dengan memilih sebuah film berjudul “Hong”. Pemenang kompetisi tersebut dengan cerdas melihat sisi budaya Indonesia yang dapat dimanfaatkan untuk membina kecerdasan masyarakat khususnya anak-anak Indonesia. Hong tidak lain adalah sebuah istilah yang digunakan di permainan rakyat. Hong dengan apiknya mengingatkan kita tentang potensi budaya yang seringkali tersembunyi atau bahkan tertutupi dengan budaya dari negara lain.

Internalisasi rasa cinta budaya juga dapat diterapkan pada masyarakat Pulau Ngele-ngele Besar khususnya anak-anak. Permainan rakyat di Maluku Utara seperti Dodengo, Dodorabe, dan Gole-gole mengajarkan tentang ketangkasan dan kerja sama antar pemainnya. Begitu pula dengan permainan Sem, Benteng, dan Kasti yang secara tidak langsung menanamkan jiwa rela berkorban demi tanah air tercinta. Sebagai contoh, permainan Sem,
Permainan ini di mainkan oleh 2 kelompok yang terdiri lebih dari 4 orang tergantung dari panjangnya garis yang di sepakati. Peraturan permainannya adalah orang yang menjaga pertahanan tepat di empat garis yang berlainan arah dan merentangkan tangan mencoba menyentuh lawannya untuk mengurung lawan tersebut di dalam garis untuk memenangkan pertandingan sampai setiap anngota lawan terkumpul di dalam garis yang berbentuk empat garis. Dan hal itu terjadi berulang-ulang untuk berusaha memenangkan permainan. Permainan ini biasa di mainkan pada bulan suci Ramadhan setelah selesai makan sahur.

Potensi mencerdaskan bangsa melalui permainan rakyat ini perlu digalakkan melalui pendidikan di sekolah. Kurikulum di sekolah khususnya muatan lokal sudah banyak diterapkan, namun aplikasi pengajaran yang belum maksimal. Oleh karenanya, usaha untuk memaksimalkan potensi ini dapat dilakukan di luar kelas, yaitu bermain bersama teman dengan pemandu dari orang-orang dewasa maupun mahasiswa. Upaya ini juga dapat sebagai perwujudan pengabdian mahasiswa yang cerdas dan berkarakter.

Referensi

Baksir, A et al. (2008). Analisis Kesusaian Lahan Pulau-pulau Kecil untuk Pemanfaatan Ekowisata Bahari di Kecamatan Morotai Selatan dan Morotai Selatan Barat Kabupaten Morotai, Propoinsi Maluku Utara. Bogor: IPB

Nganro, N. R., Suantika, G. (2009). Urgensi Ecosystem Approach dalam Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau kecil di Indonesia. Bandung: ITB

 

Posted in Uncategorized

2 thoughts on “Tahap 1 Menuju K2N

  1. hampir satu tahun, dan sudah sudah tahun lebih kutinggalkan pulau itu, terdengar kabar yg kurang mengenakkan, sbagian besar penduduk direlokasi(diusir) krn tidak sehati dg tuan tanah dlm pilbup pertama di kab ini, selang bbrapa bulan tjd penutupan perusahaan yg mjd salah satu ladang pencaharian mereka, setelah satubulan tarik ulur masalah pajak akhirnya pada tanggal 23 maret 2012 pemda p morotai melakukan penutupan secara penuh,

    • Innalillah, belum sempat saya berkunjung ke sana, harus mendengar berita yang tak bahagia tentangnya. Kakak peserta K2N UI kah?. Tahun ini Morotai masuk list pulau tujuan K2N lagi kah?sangat ingin ke sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s