Cinta Semu vs Cinta Sejati

 

Gelap dan terang

Siang dan malam

Baik dan buruk

 

Kata-kata berpasangan itu saling bertolak belakang. Ambivalen.

Begitu pula dengan dua kisah cinta yang akan kuceritakan ini

 

Aku mengenalnya pertama kali dari obrolan dengan seorang Bapak Tua yang kakinya terasa manis.

”sudah ke ruang sebelah? There’s a captain,ya Kapten”. ”125.000 US Dolar, sebulan”. ”kukatakan padanya, Goblok kamu, meninggalkan semua masa lalu dan berada di sini, tanpa uang sepeserpun”. Bapak tua itu berkata penuh semangat.

Kabar tentang sang Kapten pun kudengar dari teman yang bertugas di ruangannya.

”ada yang jago bahasa inggris, di mejanya banyak majalah berbahasa inggris, dia nahkoda kapal laut.” si teman berkata dengan gaya khasnya, lembut tanpa meninggalkan kilatan semangat.

Kapten, seorang nahkoda kapal laut, dengan tak satupun benua yang tak ditapaki. Sekarang, pasrah dengan hemyplegia dextra nya. Tanpa keluarga, tanpa saudara, tanpa teman di sebuah panti milik pemerintah. Aku harus bertemu dengannya.

Kuhampiri dia, singkat cerita…ya, aku percaya, Dia berkata jujur…tentang masa lalunya, sakitnya, istrinya, kawan yang ternyata lawan…dan SEDEKAH.

Lulusan terbaik sekolah pelayaran, 25 tahun mengarungi lautan dan berdiam lama di benua orang. Pekerjaannya menuntut dia untuk meninggalkan cinta semunya dalam jangka waktu yang lama. Hari-hari di samudera luas dilewati dengan semangat mengejar cita. Tanpa melupakan penghambaan yang wajib, sholat. Bahkan, dirinya berkesempatan untuk melakukan ritual yang kita kenal dengan thawaf, wukuf, sa’i lebih dari kebanyakan orang. Tapi ada satu yang terlupa, SEDEKAH.

 

Aku tetap mendengarkan kisahnya, dengan hati yang tak luput sedetikpun berucap hamdalah dan istighfar. Terutama di bagian ini:

”tiba-tiba saya tak bisa bangun, hingga saya minta seorang kawan membawa saya ke rumah sakit”. ”saya kena stroke, saya serahkan uang 85 juta untuk berobat di RS mewah, 5 juta disetirkan ke RS, sisanya dibawa kabur”. ”saya balik dan menelepon istri, tapi dia menyuruh saya tidak lagi menemuinya karena dia telah menikah lagi.” ”hingga saya kehabisan uang di RS dan akhirnya diantar ke sini, saya malu dengan teman maka tak ada yang tau saya di sini.”

Aku tak sanggup berkata, hingga akhirnya terucap ” sekarang kondisinya seperti ini, apa yang Bapak pikir sedang diingatkan Allah kepada Bapak?”

Dirinya, dengan kondisis hemyplegia dextra yang membuat suaranya tak lagi jelas terdengar, yang membuatnya kesulitan untuk menggerakkan mulut dengan sekuat tenaga berusaha menyampaikan bahwa ”Ya, saya berhaji berkali-kali, uang banyak, bisa keliling dunia, tapi satu hal yang saya LUPA, ya saya LUPA…tak terpikirkan sekalipun dulu untuk menyisihkan uang saya yang begitu banyak untuk orang lain yang membutuhkan”. Wallahu’alam.

 

Kisah Cinta lainnya juga kudapati dari pengalaman 5 hari di sebuah panti milik pemerintah di kawasan Jakarta Barat itu.

Kali ini, kisah cinta yang sejatinya memang begitu adanya, kisah cinta yang bisa kamu temukan antara Maryam dan Nabi Isa, Nabi Musa dan ibunya, ya kisah cinta antara seorang Ibu dengan anaknya.

Hari pertama, kulihat dirinya kesulitan menggerakkan kursi roda dengan satu tangan. Kutawarkan bantuan yang dengan sopan ditolaknya. ”saya harus mandiri” begitu Ia beralasan. Pertemuan pertama kami pun diwarnai dengan ceritanya yang sangat menggetarkan hati. Hemyplegia Sinistra membuat dia harus berjuang keras memaksimalkan tangan kanannya untuk mencuci dan menjemur pakaian, serta menyuapi anak gadisnya, menyiapkan pakaian si gadis bahkan menaburkan bedak ke wajahnya. Dan itu semua dia lakukan di atas kursi roda dengan tubuh yang lebih dari 70 tahun dipergunakan. Tubuh yang ringkih dan tentunya tak sekuat tubuh kalian.

 

Nenek ini cerdas, kritis, dan mandiri…..dan yang paling menggetarkan adalah, ia tak sendiri, ada anak gadisnya yang berusia 45 tahun tapi bersikap selayaknya para kurcaciku, bahkan lebih baik para kurcaciku.

Mungkin tak bisa kugambarkan dengan jelas keharuan melihat dua makhluk yang diikat cinta sejati ini. Bagaimana sang nenek dengan sabar menyuapi gadisnya yang tertidur di kasur sedangkan si nenek berada di kursi roda dengan sebagian tubuh tak bisa digerakkan, bagaimana si nenek membujuk gadisnya untuk bersabar menunggu lantai ruang yang masih basah di pagi hari. Bagaimana kilatan semangat sang nenek untuk selalu ikut jamaah shalat di masjid dan bagaimana tersentaknya aku ketika di menjawab pertanyaan ustadz tanpa beban sedikitpun ”Saya mah tinggal memikirkan bagaimana menghadapi kematian saja Pak Ustadz”.

 

Cinta…..

Pernah kurasakan keduanya, semu dan sejati

Dan percayalah, Cinta semu hanya membutakan hatimu dari kebenaran

Hanya menjauhkanmu dari yang Haq…

Cinta dunia dan segala isinya tak seharusnya mengalahkan cintamu pada Pencipta dunia dan segala isinya…

Hasbiyallah, ingin sekali semua hal yang kulakukan berlandaskan itu

Hanya ridha-Nya yang kupinta…

Mohonkan ampun atas segala khilaf, dan maaf atas sakit hati yang pernah kutanam ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s